Jumat, 10 Juni 2011

OPRAH WINFREY

KISAH SUKSES OPRAH WINFREY

KISAH SUKSES OPRAH WINFREY
PRESENTER TERPOPULER & WANITA TERKAYA DI AMERIKA
Kisah Sukses Oprah winfrey 
Bermodal keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.
B
Tahukah sahabat?
Lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di dilingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3 tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.
“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya.
Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.
Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi.
Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik.
Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicagolah yang akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!
Latar belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan diskriminatif mengusik hatinya untuk berupaya membantu sesama. Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka akan dengan mudah mewujudkan segala impiannya demi membantu mereka yang tertindas.
Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni antara lain rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi.
Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 Rp. 17.000,-) atau sekitar 340 milyiar rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.
Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter. Semangat perjuangannya pantas kita teladani !

SUKAMDANI SAHID G


KISAH SUKSES SUKAMDANI SAHID G SI RAJA HOTEL YANG AMBISIUS

9SEP
Kisah Sukses Sukamdani Sahid G 
Siapakah raja properti sektor perhotelan di Indonesia? Secara spontan niscaya orang akan menjawab: Sukamdani Sahid Gitosardjono. Ya, meskipun Sukamdani baru saja melepaskan jabatan sebagai direktur utama PT Hotel Sahid Jaya Internasional (HSJI) dan mempercayakan jabatan itu kini kepada mantan Dirut PT Telkom Setyanto P. Santosa, namun tak pantas disangkal Sukamdani tetap pantas dijuluki raja hotel di negeri ini. Lelaki berperawakan tegap dan murah senyum ini kini mempunyai 2.350 kamar hotel. Jaringan hotelnya berjejer mulai dari Lampung sampai Sorong di Irian Jaya. Dan, setelah dua hotelnya yang baru di Senggigi Lombok dan Ujung Pandang selesai, lengkap sudah 2.750 kamar jaringan bisnis hotel Sukamdani. Jumlahnya menjadi 14 hotel, mulai dari bintang tiga sampai bintang lima berlian.
Tak hanya itu. Masih banyak ambisi pengusaha nasional itu di bidang properti. Berdekatan dengan markas besar bisnisnya di Hotel Sahid Jaya & Tower sekarang, segera pula dibangun Grand Sahid Plaza. Hotel bertaraf internasional dengan jumlah lantai 50 itu akan menjadi hotel tertinggi di Indonesia. Belum lagi dua menara Apartemen Istana Sahid, 26 lantai, yang tampak makin mentereng. Hotel dan apartemen itu adalah tiang dari suatu proyek raksasa yang lebih besar: Superblok Sahid. Tak hanya di Jakarta di Ujung Pandang pun Sukamdani tengah menyiapkan superblok pertama di luar Jawa. Di kota ini ia bekerja sama dengan konglomerat Yusuf Kalla.
Begitu proyek-proyek besar Grup Sahid terselesaikan semuanya, akan mengukuhkan Sukamdani sebagai salah seorang raja properti negeri ini. Apalagi, khusus di bidang manajemen hotel, Sukamdani berambisi merambah pasar manajamen hotel di luar negeri. Adalah Sukamdani juga yang gusar, hotel-hotel di Indonesia dikelola oleh manajemen asing, padahal hotel itu dibangun dengan dana dari dalam negeri. Lebih dari 30 hotel ditangani oleh manajemen asing. Kita ini sebagai bangsa bagaimana? Ungkap Sukamdani dengan nada tinggi.
Kita mempunyai modal. Pertama, semangat sebagai bangsa. Kedua, kita sudah punya aset milik sendiri 14 hotel (dari hotel bintang 3 sampai 5 berlian). Ketiga, kita sudah punya organisasi dan pengalaman dalam me-manage hotel. Keempat, kita punya kepercayaan dari masyarakat. Kelima, kita punya akses pasar baik di dalam maupun luar negeri. Kita sudah 30 tahun me-manage hotel. Dengan pengalaman itu kan kita sudah punya akses pasar.
Untuk itu, kita juga punya orang-orang yang mampu me-manage hotel. Dari 12 hotel yang sekarang ada, yang menyewa tenaga asing hanya Sahid Jaya Hotel. Hotel kita yang lainnya adalah orang Indonesia. Mereka memulai karier, bahkan ada yang dari doorman, office boy dan room boy, kini banyak yang sudah jadi general manager.
Sukamdani lahir di Solo, 14 Maret 1928. Masa kecilnya dijalani di Sukohardjo, Solo, Ketika Sukamdanii kecil, kehidupan orangtuanya prihatin. Bapaknya R. Sahid Djogosentono membuka usaha jahitan. Sedang ibunya membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan kecil. Dalam usia 8 tahun, Sukamdani sudah membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Selain membantu bapaknya, ia juga membantu ibunya berjualan. “Untuk menyiapkan keperluan barang dagangan, saya ke pasar berbelanja membeli sabun, teh, rokok, pisang dan kelapa,” cerita Sukamdani. Tiap kali dagangan laku, ibunya memberi persenan. Uang itu ditabung. Kalau sudah banyak Sukamdani membeli ayam. “Kalau ayam sudah banyak, saya jual lalu dibelikan kambing. Setelah kambing saya banyak, saya jual untuk beli kerbau,” kenangnya. Di saat liburan Sekolah Sukamdani membantu menuai padi di sawah.
Tahun 1952, Sukamdani muda merantau ke Jakarta untuk memperbaiki nasib, Waktu turun dari kereta api di Stasiun Gambir, modalnya hanyalah sebuah kopor dan sebuah sepeda. Ia sempat bekerja di Depdagri. Tapi dengan pertimbangan penghasilan, lalu keluar dan bekerja di percetakan NV Harapan Masa. Dengan penghasilan yang pas-pasan, Sukamdani berani menikah dengan Juliah, kekasihnya waktu di Solo. Pasangan itu menyewa rumah berdinding gedeg. Kamarnya hanya satu berukuran 3 x 3.
Karena keuletannya, apalagi setelah membuka usaha percetakan sendiri, Sukamdani berhasil membeli tanah di tempat ia menyewa rumah itu. Dan, tanah itu, tak lain adalah tempat berdirinya Hotel Sahid Jaya sekarang di Jalan Sudirman. “Dulu rumah saya di sini,” kenang Sukamdani.
Kerja keras dan keuletan akhirnya mengantarkannya sebagai raja properti perhotelan. Selain bisnis, Sukamdani aktif di berbagai organisasi. Ia juga penerima 15 tanda jasa dan bintang kehormatan, dari pemerintah RI maupun dari negara sahabat.

Hendy Setiono


Menjadi Milyarder Di Usia Muda

11SEP
Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.
Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Sumber : Jawa Pos

Johnny Andrean


Johnny Andrean: Melahirkan Ide-ide Kreatif dari Jalan-jalan

JA
Nama ini begitu wangi belakangan ini. Tak cuma wangi sesampoan yang dimunculkan dari citranya yang melekat erat dengan dunia kecantikan, namun juga dari aroma roti dari butik-butik roti belakangan ini. Benar, dia adalah pemilik 209 gerai salon Johnny Andrean Salon-40 diantaranya berupa JA School and Training Center dan pemegang waralaba BreadTalk Indonesia yang kini sudah berjumlah 35 cabang.  Dia pula yang menciptakan waralaba lokal berskala internasional: J.Co Donuts and Coffee. Dalam waktu dua tahun, J.Co telah berdiri sebanyak 24 gerai.
September ini, Johnny kembali menciptakan momentum. Waralaba J.Co untuk pertama kalinya akan berkibar di mancanegara. Tepatnya 2 gerai di Kuala Lumpur dan 1 di Singapura. Dalam dunia pemasaran, boleh jadi ini menjadi hal yang fenomenal mengingat J.Co sendiri baru dibuka 2 tahun lalu dan langsung disambut antusias oleh pasar lokal. “Ke depan, saya ingin membuka pasar ke China, Hongkong, Korea dan Jepang,” ungkapnya bangga. Sebuah kebanggan yang wajar mengingat Johnny sudah 29 tahun merintis bisnis dan membiakkan waralaba, baru kini dia berhasil mendapatkan peluangnya. “Sudah saatnya brand Indonesia berkibar positif di manca negara,” tukasnya.
Bagi Indonesia, jelas ini sebuah prestasi besar. Setelah puluhan tahun diserang oleh waralaba donat-donat asing-dan juga waralaba apa saja di Indonesia, kini saatnya sang kaisar waralaba donat Indonesia go internasional,  “menyerang” balik  ke sarang lawan. Sejujurnya, ini adalah sebuah ungkapan keprihatinan Johnny akibat membanjirnya waralaba asing yang memasuki Indonesia dengan sangat mudah. Tapi brand Indonesia di mancanegara? “Boleh dibilang sangat tidak berimbang. Ini sangat tidak baik. Kita harus menciptakan sesuatu, dan inilah saatnya,” tegas pria 46 tahun ini.
Ke depan, dia sudah menyiapkan konsep kafe J. Lato. Untuk ini, dia sudah mengirimkan tim risetnya ke Remini dan Bologna. “Remini itu pusat gelato paling enak,” tukasnya. “Saya akan ciptakan gelato dengan rasa ketan item. Ini orisinil rasa Indonesia,” katanya seolah menjawab mengapa dia tak membuka gerai makanan Indonesia. Menurut Johhny, bekal untuk menuju pasar internasional adalah mempelajari know how-nya dulu. Setelah itu, baru dia masukkan rasa indonesia di dalamnya. ” Jadi, semua harus dilakukan dengansmooth….”
Untuk mendapatkan rasa “orisinal” itu, Johnny sendiri yang mengatur dan menentukan model menu yang akan disajikan. Anda bisa melihat bagaimana sentuhan tangan Johnny mampu merubah gaya donat standar menjadi lebih stylish. Seperti halnya Johnny mampu memengaruhi wanita dengan guntingan rambut ciptaannya, kreasi gaya donat yang diciptakannya itu ternyata menularkan ke gerai donat lain yang ada di Indonesia. Instingnya memang tak salah. Dan inilah kekuatan Johnny, ia mampu membentuk satu pasar baru melalui imajinasi gaya hidup yang ditawarkannya.
Keberhasilan ini memang tidak datang secara instan. Johnny sendiri adalah tipe pekerja keras yang intens, tak kenal lelah dan terus menemukan formula kesuksesan untuk bisnis yang ditanganinya. Seperti diungkapkan oleh Johnny tentang bagaimana ia bisa meraih kesuksesan itu.”Hidup memang harus selalu belajar dari pengalaman,” katanya berfilsafat. Bila konsepnya bisnisnya dan kualitas produk sudah diterima masyarakat, maka dengan segera dia akan melakukan duplikasi. Inilah resep kesuksesan Johnny hingga waralaba yang dimilikinya beranak pinak.
Untuk melengkapi wawasan berbisnis, tak segan ia melakukan perjalanan ke Amerika untuk mempelajari konsep marketing, Eropa untuk memelajari urusan penyajiannya, serta Jepang untuk display gerainya. J. Co adalah hasil dari kolaborasi perjalanan ini, selain tentu saja karena ia melanjutkan formula kesuksesannya di salon dan BreadTalk. Karena penataan interior, bar, dapur terbuka, hingga nama menu donat dan kopi terasa sangat Amerika, wajar saja bila jarang orang berpandangan bahwa J.Co Donuts and Coffee adalah waralaba asing. “Kita memang harus selalu berpikir ke depan,” ia menegaskan.
Dalam melakukan pekerjaannya, ayah 4 anak ini dibantu oleh tim yang terdiri atas anak-anak muda. “Disini justru yang muda yang dipercaya,” katanya sambil memplesetkan sebuah iklan rokok. “Saya suka anak muda karena dia tidak berpolitik. Kalau sudah senior, biasanya dia akan berpolitik. Ini mengganggu pekerjaan,” ungkapnya. Johnny sendiri mengaku sangat tidak berpolitik-satu pernyataan yang kontradiktif tentunya. Memilih tidak berpolitik merupakan satu sikap berpolitik bukan?
Bisa jadi, ia bukanlah tipikal pria yang suka terlibat dalam konflik. Dia memilih anak-anak muda karena dianggapnya akan lebih mudah dibentuk. “Seperti sebuah kertas putih, kita bisa mengaturnya. Seperti sebuah pohon, kita bisa membentuknya sesuai dengan keinginan kita,” Johnny membeberkan alasannya. Mereka juga lebih spontan, ini yang membuat Johnny mempunyai patner kerja yang sepadan. Lalu bagaimana dengan pegawai senior yang ada di kantornya? “Loh, mereka kan sudah jadi (sudah terbentuk). Artinya dia sudah menjadi aset perusahaan,”katanya. Soal apakah dia tipe atasan otoriter, Johnny lantas tertawa terbahak-bahak. “Tanyakan pada anak buah saya..,”
Gita Herdi, sahabat terdekat yang merangkap sebagai Public Relation Johnny Andrean Corporate memberikan pandangannya tentang atasannya itu. Katanya, “Dia tipikal pria workaholic. Meskipun dia seorang pemimpin, dia tidak sungkan untuk terjun langsung ke lapangan. Bahkan bila memang diperlukan, Sabtu-Minggu pun dia masuk ke kantor menemani kami.” Kedekatan inilah yang membuat Gita dan ribuan karyawan Johnny merasa memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap nasib perusahaan. Komunikasi dengan bawahan pun berlangsung cair, bahkan lebih terasa seperti bentuk hubungan pertemanan dibandingkan dengan hubungan atasan bawahan.
Meskipun kini dia sedang asyik-asyiknya mengerjakan industri roti, bukan berarti dia melupakan aktivitas waralaba salonnya. “Masih terus dong,,, sekarang saya kan sudah punya tim mantap. Mereka yang mengerjakan, saya terus memantau,” tukas Johnny. Ia juga membangun citranya melalui agenda Johnny Andrean Awards-ajang penghargaan bakat-bakat dalam dunia kecantikan, termasuk para bintang yang mempopulerkan rambut terbaru– setiap tahunnya. Lulusan Vidal Sasson Academy, London Inggris, Alexander de Paris, Perancis, Tony & Guy Academi London serta Trevor Sorbie Academi London ini kini juga kerjasama dengan Mandom Jepang untuk merekomendasikan produk-produk perawatan rambut untuk pasar Indonesia.
Arifaldi Dasril, Brand Public Relation Manager L’Oreal Professional Indonesia menyatakan kekagumannya pada etos kerja Jonny. Selama 4 tahun bekerjasama dalam agenda Johnny Andrean Award, Johnny menampakkan sifat yang terbuka dan mudah menerima pendapat orang lain. “Dia juga ulet untuk merangsang kreativitas stylist-stylistnya. Karena itulah L’Oreal Professional mengadakan kerja sama dengan Johnny yang dianggap memiliki misi yang sama: meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang dunia kecantikan rambut. “Dia tidak pelit berbagi pengetahuan,” tambah Arif.
Begitulah. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dari ayahnya yang berbisnis di bidang usaha hasil bumi, dia diwarisi sifat-sifat ketegasan, ilmu wiraswasta, serta integritas dalam berkarya. Sementara, ibunya yang membuka salon kecil di rumahnya, Singkawang, Kalimantan Barat, memberikan banyak perhatian dan banyak rasa pengertian terhadap dirinya. “Sejak kecil, saya sudah membantu Ibu di salon,” katanya..
Johnny menuju Jakarta baru tahun 80-an, dan mendirikan salon kecil di Jakarta Utara. Jelas bukan perkara mudah untuk mengembangkan bisnis yang saat itu masih belum begitu banyak berkembang. Apalagi, ia berasal dari pulau yang jauh. Tapi bukan Johnny namanya bila dia tidak kreatif membuka pasarnya. Kunci kesuksesan sebuah salon adalah kedekatan hubungan dengan pelanggan. Pelayanan menjadi satu hal yang penting. Dan itulah yang dilakukan ole Johnny hingga ia merayap satu demi satu hingga membuka cabang di tempat lain.
Meskipun salon terus bertaburan, namun ia tetap yakin dengan usahanya. “Saya bisa memberikan pelayanan yang baik dan harga reasonable yang membuat salon saya menjadi kebutuhan banyak wanita,” begitu jawab Johnny, seolah menyindir banyaknya salon baru yang menawarkan layanan eksklusif dengan harga selangit. “Kalau orang membeli tas Hermes yang mahal, 20 tahun shape-nya sama, orang pun tahu mereknya. Tapi kalau salon? Walaupun dia digunting di Vidal Sasoon, apa dia mau teriak-teriak bahwa dia dipotong disana? Lagian, setelah keramas, bentuknya sudah berubah bukan? Saya ingin salon itu ke market yang lebih luas, bukan segelintir orang saja. Ini fokus kita.”
Dunia salon identik dengan dunia transgender, Johnny mengakuinya. Dia justru mengakui kelebihan kaum transgender yang terasa lebih kreatif dibanding yang lain. “Mungkin mereka lebih bisa menyelami hati wanita ya?,” ungkapnya tersenyum. Lalu melanjutkan,” Tapi banyak jalan menuju Roma bukan. Meski saya bukan transgender saya juga bisa menyelami wanita. Bagi saya, inilah yang benar.” Ia lantas menyebutkan nama Vidal Sassoon. Tony and Guy sebagai pemilik salon yang memiliki keluarga bahagia, seperti dirinya.
Ketika bicara cinta, pendar-pendar keceriaan itu terasakan di wajah Johnny. “Saya jatuh cinta pada Tina karena rambutnya yang panjang. Ketika itu, sulit sekali bagi saya menemukan wanita cantik yang menjaga rambut panjangnya,” katanya. Karena itu, ketika ia menemukan Tina, ia merasa bahwa wanita yang kemudian dinikahinya ini memiliki karakter yang unik, telaten, bisa merawat dirinya dan keluarganya. Seperti ia bercermin pada keluarganya, ia berprinsip bahwa kesuksesan karir sangat tergantung pada keberhasilannya merawat rumah tangga.
Firasat Johnny tidak salah. Ia menceritakan, lagi-lagi dengan binar matanya, tentang cinta yang tumbuh dan berkembang di dalam keluarganya. Di rumahnya yang asri, ia melengkapi seluruh fasilitas, seperti ruang keluarga yang nyaman tempat Johnny dan anak-anaknya mendengarkan lagu-lagu slow, salon untuk merawat rambutnya supaya tetap sehat dan berkilau, spa untuk merawat kulit tubuhnya, hingga fitness center. “Rumah adalah tempat saya pulang. Tempat saya merasa selalu nyaman,” ungkapnya.  Di rumah inilah, Tina merawat kulit wajahnya supaya tetap segar dan kencang seperti sekarang ini.
Tentang kedekatan ini, Tinapun mengakui. “Sebagai seorang ayah, dia sayang dengan keempat anaknya. Sementara sebagai suami, dia sangat memperhatikan saya. Bahkan cenderung protektif, tapi saya yakin itu pasti untuk kebaikan.” Johnny selalu melewatkan masa weekendnya bersama keluarga. “Dia ingin saya selalu memasakkan untuknya, dan kami makan bersama-sama di rumah,” cerita Tina. Jenis masakan yang disukai: makanan Jepang dan Italia.
Apa kata Johnny tentang ini? “Saya sebenarnya bukan pria rumahan. Tapi sepertinya itu adalah hal yang harus saya bayar karena setiap hari ada diluar, gak pagi gak malam, terkadang sampai malam. Nah, karena itu kita harus ada di rumah untuk balance, mencari inspirasi baru,”katanya. Mungkin, Johnny ingin memberikan wewangian itu untuk keluarganya, dengan limpahan kasih sayang dan kehangatannya..